gie


Gie
Oleh : DHA

Soe Hok Gie. Mungkin nama itu sudah tidak asing lagi di telinga para pemuda, khususnya mahasiswa. Gie, sapaan akrabnya, lahir pada tanggal 17 Desember 1942 ketika perang tengah berkecamuk di Pasifik. Ya... begitulah informasi yang kubaca dari sebuah buku yang berjudul "Catatan Seorang Demonstran". Buku tersebutlah yang pertama kali memperkenalkanku dengan pemuda yang berjiwa idealis dan kritis itu.
Ketika aku membaca buku tersebut, aku pikir Gie adalah sosok yang mempunyai keberanian tinggi. Bagaimana tidak? Semasa ia menjadi mahasiswa di Universitas Indonesia, ia aktif memberikan kritik terhadap kinerja pemerintah yang dianggap melenceng dari norma dan aturan yang ada. Ia mengungkapkan gagasan dan buah pikirnya melalui tulisan-tulisannya yang diterbitkan di media massa. Selain itu, bersama rekan-rekannya, ia juga aktif turun ke jalan sebagai demonstran yang berusaha menegakkan keadilan untuk rakyat biasa.
Gie, dikenal memiliki perawakan yang kecil. Namun, bukan berarti keberanian dan semangatnya dalam menegakkan keadilan adalah minim. Ia adalah seseorang dengan keberanian di atas rata-rata (menurutku). Sebab, ketika kebanyakan orang memilih untuk diam dan tidak mengungkapkan fakta tentang betapa kotornya rezim yang ada pada massa itu, Gie lah orang pertama yang berani membuka suara. Ketika para wartawan dan orang-orang yang bekerja di media massa bungkam akan kebenaran, Gie lah yang pertama kali mengungkapkan kebenaran dengan lantang. Ia mengkritik pemerintahan yang bersikap menyimpang dari aturan. Gie tidak peduli bila ia akan diadili atau ditindak. Dia hanya ingin mengeluarkan pendapatnya. Dia hanya ingin ketidakadilan ditumpas habis.
Mungkin di zaman sekarang, mengkritik kinerja pemerintah adalah hal yang wajar dan sudah sepatutnya dilakukan apabila memang diperlukan. Tapi, Gie tidak hidup di zaman yang serba dimudahkan seperti sekarang ini. Gie tidak hidup pada masa dimana kebebasan dalam menyuarakan pendapat dapat dilindungi.  Ia hidup di zaman yang paling kelam dan mencekam sepanjang berdirinya Negara Indonesia. Kebablasan memberi argumen, bisa-bisa nyawa taruhannya.
Lagi, kekagumanku terhadap Gie tidak berhenti sampai di situ. Selain cerdas, sarkas, kritis, idealis dan humanis, ternyata Gie juga sosok yang romantis dan melankolis. Dalam catatan hariannya, ia banyak menulis puisi-puisi yang indah.
Kemampuannya dalam bidang menulis tidak perlu diragukan lagi. Hal ini dikarenakan sejak remaja ia sudah terbiasa menulis catatan harian. Bukan sekedar catatan ala-ala remaja seusianya, catatan harian Gie begitu kritis, berkualitas dan mendalam. Selain itu, sejak SMA ia sudah banyak membaca buku-buku sastra, filsafat dan sejarah kelas dunia. Aktivitas itulah yang begitu memengaruhi pemikiran dan intelektualitasnya hingga akhir hayatnya.
Namun, nampaknya Tuhan lebih menyayangi Gie. Ia meninggal pada usia yang masih sangat muda, yakni 27 tahun kurang 1 hari di Gunung Semeru akibat terlalu banyak menghirup gas beracun. Mungkin, Tuhan tidak ingin idealisme dan keberanian Gie luntur, lantas hilang dimakan usia. Tuhan ingin sosok intelektual muda seperti Gie abadi dan dapat dikenang sepanjang masa.
Aku pikir, generasi muda khususnya mahasiswa amat perlu mencontoh sikap dan sifat Gie. Bahwa sudah seharusnya mahasiswa itu menjadi agen perubahan dan bermanfaat bagi rakyat. Perbanyak membaca, perbanyak diskusi dan perbanyak bergaul dengan masyarakat. Dengan begitu kita akan paham arti kehidupan yang sesungguhnya. [DHA]



Comments

Popular posts from this blog

MY BEST IDOL IS MY PARENTS